Diperbarui pada 21 Februari 2020 18:58


Dekan FDK Angkat Isu Radikalisme Indonesia ke Dunia Internasional

[www.fdk.uinsgd.ac.id] - Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Dr. H. Ahmad Sarbini, M.Ag. dan Ketua Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Dudy Imanudin Effendi, mengangkat isu radikalisme di Indonesia ke dunia internasional. Sarbini dan Dudy turut didampingi oleh penulis koresponden, Lili Awaludin.

Alasan isu ini diangkat oleh pejabat Fakultas Dakwah dan Komunikasi tersebut karena kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Sarbini dan Dudy berangkat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Maarif institute terhadap 98 orang peserta Jambore Maarif Institute. Setengah lebih peserta terpapar radikalisme. Hal ini berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan, apakah mereka bersedia melakukan agresi terhadap orang atau kelompok yang dianggap telah menghina Islam. Sejumlah 40, 82 persen bersedia dan 12,24 persen sangat bersedia.

Sarbini dan Dudy juga menjadikan hasil penelitian setara institute sebagai pijakan kajiannya, yaitu bahwa intoleransi yang menjadi cikal bakal radikalisme dan titik awal terorisme diajarkan oleh Islam garis keras di Indonesia.

Sarbini dan Dudy yang berlatar belakang ilmu konseling ingin melihat persoalan radikalisme dari sisi kejiwaan, bagaimana ideologi garis keras tersebut bisa dicegah melalui upaya-upaya konseling. Misalnya melalui pendekatan konseling multikultural dianggap mampu menggerakkan masyarakat untuk saling menghormati dan menerima. Kelompok mayoritas dapat menghormati minoritas, dan sebaliknya. Konsep saling menghormati dan menerima adalah prinsip dalam memelihara keharmonisan dalam masyarakat majemuk.

Melalui paradigma konseling rasional-emotif, Sarbini dan Dudy merujuk pada konsep yang dikembangkan oleh 3 ormas besar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Persatuan Islam (PERSIS) dengan pendekatan etnografi virtual. Melalui metode etnografi virtual, Sarbini dan Dudy mengambil pandangan sumber informasi di internet tentang segala sesuatu yang terkait dengan radikalisme untuk diidentifikasi dan dianalisis.

Pada kerangka pemikiran, Sarbini dan Dudy memaparkan bagaimana pandangan sosiologi, politik, filosofis, agama, budaya, juga ekonomi. Berdasarkan konsep-konsep yang dipaparkan, radikalisme bermuara pada persoalan aktualisasi diri selain persoalan tekanan politik, emosi keagamaan, kultural, anti-barat, dan kebijakan pemerintah. Melalui perspektif yang dipaparkan, menurut Doktor bidang konseling tersebut, radikalisme radikalisme bersifat temporal dan pada akhirnya dapat diberantas.

Doktor bidang konseling tersebut merujuk Emile Durkheim mengusulkan konsep "anomi," yang merupakan konsep sosiologis untuk menjelaskan kondisi psikologis perasaan terasing sebagai akibat dari umat manusia yang tercerabut dari kehidupan. Dia mengatakan bahwa ekonomi adalah akar dari kondisi anomi ini.

Para peneliti tersebut melihat 3 konsep kunci yang mewakili radikalisme di Indonesia dicirikan melalui kata kunci; khalifah, jihad, dan takfiri. Konsep-konsep kunci tersebut menyebabkan penganut radikalisme melakukan hal-hal (1) Cenderung bergerak berdasarkan kebencian yang kuat terhadap Barat. (2) Mereka percaya akan kembalinya kejayaan masa lalu Islam. (3) Mereka percaya bahwa perjuangan terbaik adalah menerapkan syariah Islam dalam Islam struktur pemerintahan. (4) Mereka percaya bahwa Islam adalah agama dan negara. (5) Mereka percaya bahwa masa lalu adalah panduan untuk masa depan revolusioner.

Ketiga peneliti akhirnya menawarkan solusi melalui gerakan Islam Nusantara yang diusung oleh NU, Islam Progresif yang diusung oleh Muhammadiyah, dan Persis melalui dukungannya terhadap program-program pemerintah.

Hasil penelitian jejak-jejak digital yang dilakukan oleh Dudy Imanudin, Lili Awaludin, dan Ahmad Sarbini tersebut dipublikasikan oleh Jurnal Internasional yang berbasis di China, Nusantara: An International Journal of Humanities and Social Sciences: Vol. 1 No. 1 (2019) pp. 90–112 yang berada pada lembaga Center for Multi-cultural Studies, National Cheng Kung University & Ainosco Press pada penghujung tahun 2019.***[]



Kirim Komentar

Nama
Alamat Email
Komentar
Kode Captcha:

Profil Fakultas

Fakultas Dakwah dan Komunikasi pada awalnya merupakan salah satu jurusan di Fakultas Ushuluddin, yaitu Jurusan Dakwah, yang sudah ada sejak berdirinya IAIN Sunan Gunung Djati Bandung pada tanggal 28 Mei 1968.

Selengkapnya


Pengaduan dan Saran

Mahasiswa, dosen, serta masyarakat lainnya dapat mengirimkan pengaduan atau saran kepada pihak fakultas baik terkait dengan pelayanan maupun kegiatan akademik. Pengaduan dapat dikirim melalui tautan di bawah.

Kirim Pengaduan


Informasi Terbaru







Tautan Terkait